Jeneponto — Pada sebuah sudut Dusun Kunjung Mange, Desa Kaluku, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, hidup seorang lelaki tua bernama Mustari Baso. Meski kini tinggal di rumah kecil berdinding seng berukuran 2×2 meter yang kini akan mendapat bantuan dari Kasad, masa lalu Mustari menyimpan cerita perjuangan dan pengabdian luar biasa. Mustari Baso mengabdi sebagai prajurit TNI berpangkat Sersan Satu dan menjalankan tugasnya di satuan elit Resimen Para Komando Angkatan Darat.
Pada usia 82 tahun, Mustari menjalani masa senjanya dengan penuh keterbatasan karena istri dan anak-anaknya telah meninggalkannya. Ia tinggal di belakang rumah milik keluarga H Jalling yang dengan sukarela menampung dan merawatnya. Tidak ada kemegahan seperti di masa dinas dulu. Hanya suara angin dan dinding seng yang menemaninya.
Namun kabar bahagia datang dari institusi yang dulu dibelanya.
Kasad Turun Tangan, Bantuan Rumah Segera Dibangun
Kisah Mustari viral di media sosial dan menyentuh banyak pihak, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Kasad menyampaikan pesan melalui Dandim 1425 Jeneponto, Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa, bahwa ia akan membangun rumah untuk Mustari sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya.
“Komando atas akan buatkan rumah dari bapak Kasad,” ungkap Dandim saat menyambangi kediaman Mustari pada Senin (4/8) malam.
Dandim juga menyampaikan bahwa pembangunan rumah saat ini dalam tahap penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Tidak hanya itu, bantuan kemanusiaan dari rekan-rekan seangkatan Mustari di RPKAD juga terus berdatangan. “Alhamdulillah, kondisi Pak Mustari sehat. Ini semua karena perhatian besar dari keluarga besar TNI,” ujarnya.
Mustari masih mengingat samar pengalaman saat bertugas di masa Presiden Soeharto. Dengan suara lirih, ia mengenang operasi di Timor-Timur dan upaya pemberantasan PKI. Mustari sering menyebut nama Prabowo dan Soeharto karena ia sangat mengagumi kedua tokoh tersebut.
Sayangnya, kehidupan pribadinya tak semanis masa tugasnya. Istrinya pergi membawa anak-anak. Hj Sattunia, istri H Jalling yang kini merawat Mustari menceritakan bahwa ia pernah menemukan Mustari terlantar di bawah jembatan dan di terminal.
“Saya yang merawatnya sejak dua tahun lalu. Anaknya hanya pernah menelepon dan janji bantu, tapi tak ada realisasinya,” jelas Sattunia.
Sattunia menjelaskan bahwa anak Mustari pernah mengambil uang pensiunnya hingga mencapai Rp100 juta dan hanya menyisakan Rp400 ribu per bulan.
Kini, dengan rencana pembangunan rumah dari Kasad dan perhatian dari keluarga besar TNI, Mustari kembali memiliki harapan. Seragam lamanya dengan lambang Kopassus dan papan nama “M.K.R. Baso” masih tersimpan rapi. Itu bukan sekadar kenangan, tapi simbol bahwa perjuangannya tak pernah sia-sia.
“Beliau ini purnawirawan Kopassus, terakhir berdinas di Kodim 1411 Bulukumba tahun 1992,” kata Pelda Alimuddin, Batituud Koramil 05 Batang. “Untungnya masih ada keluarga yang mau merawat. Kalau tidak, mungkin beliau sudah terlantar.”
Dengan segala keterbatasan yang ia hadapi, Mustari membuktikan bahwa kehormatan seorang prajurit tak ditentukan oleh materi, tapi oleh nilai pengabdian yang melekat seumur hidup.





Komentar