Bulukumba – Sebanyak 236 warga Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, saat ini sedang menjalani pengobatan HIV dengan obat antiretroviral (ARV). Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten (KPAK) Bulukumba mengungkap data ini berdasarkan laporan yang mereka himpun per Juni 2025.
“Data ini mencakup pasien yang dirawat baik di rumah sakit maupun puskesmas. Angka tersebut baru mencerminkan yang terdeteksi dan secara sadar menjalani pengobatan,” ujar Kepala Sekretariat KPAK Bulukumba, Harni Ekayanti Ishak, dalam siaran pers yang diterima di Makassar, Sabtu (19/7).
Harni Ekayanti Ishak menegaskan bahwa kasus HIV di Bulukumba menggambarkan fenomena gunung es. Meski hanya sebagian kecil yang teridentifikasi, kenyataannya kemungkinan besar virus tersebut telah menyebar lebih luas di masyarakat.
Dari total 236 pasien, sebanyak 189 orang adalah laki-laki dan 47 orang perempuan. Harni memaparkan bahwa faktor risiko terbesar berasal dari hubungan sesama jenis antara lelaki seks lelaki (LSL) yang mencapai 115 orang. Petugas KPAK Bulukumba mencatat bahwa 48 pasien tercatat sebagai pelanggan wanita pekerja seks, 14 orang teridentifikasi sebagai waria, delapan orang menggunakan narkoba suntik (penasun), 18 orang termasuk dalam kategori pasangan berisiko tinggi, dan empat pasien adalah anak-anak.
“Faktor LSL menjadi perhatian utama karena perilaku seksual yang tidak konsisten dan kerap berganti pasangan sangat berisiko memperluas penyebaran infeksi,” tegas Harni.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bulukumba langsung bergerak cepat. Wakil Bupati Edy Manaf yang juga menjabat sebagai Ketua KPAK Bulukumba memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pemangku kepentingan lainnya. Rapat tersebut berlangsung di ruang kerja Wakil Bupati.
Dalam pertemuan tersebut, para peserta menyamakan persepsi dan menyusun langkah strategis guna memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Langkah ini meliputi identifikasi peran masing-masing instansi, penguatan jejaring kerja antar-lembaga, serta penyusunan program kolaboratif yang berkelanjutan.
Pemda prioritaskan edukasi, layanan kesehatan, dan konseling bagi kelompok rentan untuk tekan kasus HIV/AIDS di Bulukumba.





Komentar