Bone – Sejumlah petani di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memilih untuk memanen padi lebih awal meski gabah masih hijau. Mereka mengejar keuntungan cepat di tengah kebutuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan kualitas hasil panen. Kondisi ini membuat Bulog Bone menghadapi dilema dalam proses penyerapan gabah.
Kepala Kantor Bulog Bone, Maysius Patintingan, mengungkapkan bahwa praktik panen dini marak terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut banyak petani yang memanen padi sebelum waktunya, hanya agar gabah cepat dijual. Saat tim Bulog melakukan pengecekan pagi hari, mereka langsung menemukan tumpukan gabah yang masih berwarna hijau.
“Gabah hijau sekarang banyak sekali. Kita sudah susah membedakan lagi mana yang kuning dan mana yang belum layak panen. Hampir tiap subuh kami cek, dan hasilnya tetap sama,” ujar Maysius saat ditemui di kantor Bulog Bone pada, Jumat (18/7).
Fenomena ini tidak hanya terjadi karena alasan ekonomi. Faktor efisiensi alat panen juga memengaruhi. Menurut Maysius, banyak petani memilih panen serentak karena menyesuaikan jadwal alat panen seperti combine harvester yang hanya tersedia terbatas.
“Kalau di sawah sebelah sudah panen dan alatnya datang, petani lain ikut panen juga, walau gabahnya masih hijau,” jelasnya.
Meskipun Bulog menyadari rendahnya kualitas gabah yang mereka serap, lembaga tersebut tetap membeli sesuai regulasi pemerintah. Bulog mencatat gabah tersebut sebagai produk di bawah standar, namun tetap masuk dalam program penyerapan.
Maysius berharap petani bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya kualitas panen, bukan hanya kuantitas. Ia menilai panen terburu-buru justru merugikan semua pihak dalam jangka panjang, termasuk petani sendiri.





Komentar