Bone – Aksi unjuk rasa menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Bone ricuh pada Selasa (19/8/2025). Bentrokan antara massa dan aparat keamanan melukai 13 orang dari TNI, Polri, dan Satpol PP.
Kapolres Bone AKBP Sugeng Setyo Budhi menegaskan bahwa delapan anggota TNI, tiga polisi, dan dua personel Satpol PP mengalami luka dalam kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar korban menderita luka di bagian kepala.
“Ada 13 aparat yang mengalami luka. Delapan anggota TNI yang luka, polisi ada tiga orang, Satpol PP ada dua orang, rata-rata bocor kepalanya dan sementara dirawat,” ujar Sugeng pada Rabu (20/8).
Sugeng menuturkan bahwa aparat sudah berulang kali memperingatkan pendemo agar menjaga ketertiban. Namun situasi berubah setelah kelompok anarko menyusup ke barisan massa.
“Kami dan TNI berulang memberikan peringatan kepada pendemo, tetapi ada kelompok anarko yang menyusup karena ada benderanya yang berkibar. Kami akhirnya melakukan penindakan sesuai SOP,” jelasnya.
Selain mencatat korban luka, polisi juga menangkap 54 orang yang terlibat dalam kericuhan. Menurut Sugeng, sebagian besar berasal dari luar Bone dan masih berusia remaja.
“Yang kami amankan sementara dalam proses pendataan, sebagian dari luar Bone. Dan rata-rata anak di bawah umur,” ungkapnya.
Polisi turut menemukan indikasi penggunaan miras dan narkoba di kalangan massa yang ditangkap. Petugas masih memeriksa seluruhnya untuk memastikan keterlibatan mereka dalam aksi anarkis.
Kericuhan tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Bone menunda rencana kenaikan PBB sebesar 65 persen. Bupati bersama jajarannya memilih langkah itu setelah melihat eskalasi aksi yang meningkat menjadi bentrokan fisik.





Komentar