Luwu – Rumah reyot Muhlis di Luwu menunjukkan potret keluarga miskin yang hidup tanpa perhatian pemerintah. Muhlis bersama istrinya, Kasma, dan lima anaknya tetap bertahan di rumah papan lapuk dengan atap bocor. Setiap kali hujan turun, air merembes deras dan membasahi seluruh isi rumah.
Keluarga ini terus hidup serba kekurangan. Pemerintah sama sekali tidak menyalurkan bantuan sosial kepada mereka. Petugas program bedah rumah juga menolak permohonan Muhlis karena rumah itu berdiri di atas tanah milik orang lain.
“Kami sudah ajukan berkali-kali, tapi mereka selalu menolak. Tanah ini memang bukan milik kami, tetapi kami hanya ingin rumah yang aman untuk anak-anak,” kata Kasma dengan mata berkaca-kaca.
Muhlis menegaskan bahwa keluarganya tidak pernah menerima PKH maupun bantuan pangan. Ia hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Masalah semakin berat karena dua anak Muhlis yang masih bersekolah di SMA dan SMP tidak masuk daftar penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu, Andi Pallanggi, langsung merespons kabar itu. Ia berjanji akan mengecek data siswa di sekolah agar petugas tidak melewatkan nama anak-anak miskin.
Pemkab Luwu melalui Dinas Perumahan dan Permukiman mencoba menawarkan jalan keluar. Kepala Bidang Perumahan Rakyat, Attar, menyebut warga miskin seperti Muhlis tetap bisa ikut program bedah rumah jika mereka menunjukkan bukti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Menurut Attar, bukti itu cukup meski tanpa sertifikat tanah.
Awak media sudah berusaha menghubungi Kepala Dinas Sosial Luwu, Hasliana, tetapi panggilan itu belum mendapat jawaban. Hingga hari ini, rumah reyot Muhlis di Luwu masih berdiri rapuh dan menunggu uluran tangan pemerintah maupun dermawan.





Komentar