Close sidebar
Advertisement Advertisement
Kesehatan

DBD Ancam Anak dan Lansia, Perempuan Diminta Jadi Garda Depan Pencegahan

DBD Ancam Anak dan Lansia
Ilustrasi DBD Ancam Anak dan Lansia

Jakarta – DBD ancam anak dan lansia di Indonesia dengan jumlah kasus yang terus meningkat setiap tahun. Ahli kesehatan menekankan pentingnya pencegahan menyeluruh melalui langkah 3M Plus, penggunaan pelindung diri, serta penerapan metode inovatif seperti vaksinasi yang direkomendasikan asosiasi medis.

Edukasi keluarga, terutama yang melibatkan peran aktif perempuan, menjadi garda terdepan untuk melindungi kelompok rentan ini. Langkah 3M Plus meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

35 Siswa di Maros Diduga Keracunan Usai Bukber di SMPN 3 Camba, Puluhan Dirawat

Warga juga memakai lotion antinyamuk dan kelambu pada tempat tidur, terutama di wilayah dengan kasus dengue tinggi. Konsistensi menjalankan langkah ini menekan potensi penyebaran virus secara signifikan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus dengue masih mengkhawatirkan. Hingga pekan ke-25 tahun ini, petugas menemukan 79.843 kasus dengue dengan 359 kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,45 persen. Angka ini belum menurun meskipun pemerintah dan pihak terkait mengintensifkan berbagai upaya.

Pada 2024, jumlah kasus DBD mencapai 257.455 dengan 1.461 kematian. Indonesia menempati peringkat tertinggi di ASEAN untuk jumlah kasus dan kematian akibat dengue. Sukamto menegaskan bahwa orang dewasa dengan penyakit penyerta seperti hipertensi, obesitas, diabetes, gangguan ginjal, dan penyakit paru-paru menghadapi risiko lebih tinggi mengalami DBD berat. Ia mendorong edukasi yang memberdayakan perempuan agar mampu melindungi keluarga, terutama di lingkungan rumah.

Kisah Cipa, Usia 29 Tahun Terkena Diabetes Akibat FOMO Makanan Manis Viral

Edukasi Keluarga Jadi Kunci karena DBD Ancam Anak dan Lansia

Dokter Spesialis Anak Konsultan dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, mengingatkan bahwa anak-anak, terutama usia 5–14 tahun, menjadi kelompok paling rentan terhadap infeksi dengue. “Infeksi kedua pada anak justru memicu gejala lebih berat,” ujarnya.

Lansia juga menghadapi risiko tinggi karena daya tahan tubuh menurun seiring usia, sehingga mereka memerlukan perlindungan ekstra. Bernie menegaskan bahwa pencegahan menjadi langkah utama karena hingga kini tidak tersedia pengobatan spesifik untuk dengue.

Gejala yang perlu keluarga waspadai meliputi demam tinggi, nyeri kepala, mual, muntah, nyeri otot dan sendi, serta ruam kulit. Ia menjelaskan bahwa fase kritis muncul saat demam mulai menurun. Kondisi ini dapat memicu syok dengue jika keluarga tidak segera membawa pasien ke fasilitas medis.

DEMA FKIK FKIK UIN Alauddin, Layanan Kesehatan Gratis dan Peduli Lingkungan

Masyarakat memperkuat pencegahan melalui dukungan bersama. Kader kesehatan, RT/RW, dan sekolah berperan penting dalam mengedukasi warga tentang bahaya dengue. Warga yang bergotong royong membersihkan lingkungan secara rutin memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti.

Pakar kesehatan juga mendorong vaksinasi dengue bagi kelompok yang memenuhi syarat medis. Langkah ini mengurangi risiko kasus berat, terutama pada anak dan lansia. Dengan sinergi pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat yang bergerak aktif, target penurunan angka kasus DBD dapat tercapai lebih cepat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *