Kesehatan – Istilah avoidant style semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Banyak orang merasa memiliki kecenderungan ini, yaitu sikap yang membuat mereka menghindari keterikatan emosional yang terlalu dalam dalam hubungan. Orang dengan avoidant style tampak mandiri dan kuat, namun mereka sebenarnya menyimpan ketakutan untuk dekat dan terbuka kepada orang lain.
Psikolog klinis Maharani Octy Ningsih menjelaskan bahwa pengalaman masa lalu sering membentuk avoidant style. Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi saat kecil, pengalaman ditolak ketika menunjukkan perasaan, atau kebiasaan memikul tanggung jawab berlebih sejak dini dapat memicu pola ini. Karena pengalaman tersebut, individu memilih menyimpan emosinya sendiri untuk bertahan, sehingga mereka sulit menerima dukungan dari orang lain.
Meski banyak orang menilai avoidant style sebagai sifat “dingin”, gaya ini juga menunjukkan sisi positif. Mereka cenderung mandiri, mampu mengatur diri, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan. Namun, pola yang terlalu kuat dapat menimbulkan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat. Mereka merasa tidak nyaman saat menerima perhatian, sulit meminta bantuan, dan memilih menjauh ketika hubungan mulai terasa dekat.
Fenomena ini semakin banyak muncul di kalangan Gen Z yang hidup di era digital. Banyak dari mereka harus tampil baik di media sosial, menghadapi tuntutan sukses sejak dini, dan berada dalam lingkungan yang membuat hubungan emosional terasa rumit. Tekanan tersebut mendorong mereka membangun benteng emosional sebagai cara untuk melindungi diri.
Mengatasi avoidant style tidak perlu seseorang lakukan secara drastis, sehingga ia bisa memulai dengan menyadari polanya. Ia membuka diri secara perlahan kepada orang yang ia percaya, menerima bantuan, dan memberi ruang untuk merasakan emosi sebagai langkah awal. Ketika pola tersebut mengganggu hubungan atau menciptakan rasa terisolasi, ia memilih berkonsultasi dengan psikolog.





Komentar