Makassar — Puluhan mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) turun ke jalan pada Kamis, (31/7/2025). Mereka memprotes berbagai persoalan internal kampus. Mulai dari persoalan almamater, krisis Propesionalisme dosen dan Praktik jual beli nilai. Aksi dimulai pukul 14.00 WITA dari Lapangan Voli UNM, lalu bergerak menuju depan Gedung Phinisi sebagai titik utama tuntutan.
Sambil mengenakan jas almamater, para peserta menyuarakan kritik terhadap sistem kampus. Mereka menilai UNM semakin tertutup dan tidak berpihak pada kepentingan mahasiswa.
Presiden BEM UNM, Syamri, menyatakan bahwa mahasiswa tetap terbuka pada diskusi sejarah, termasuk G30S dan pelanggaran HAM 1998. Namun, ia mengecam forum-forum yang berjalan secara tertutup dan tidak melibatkan mahasiswa. “Kami tidak pernah diajak bicara. Mereka sudah menutup pendaftaran forum sebelum mahasiswa sempat tahu,” ujar Syambri dalam orasinya.
Selain itu, mahasiswa juga mengkritik praktik komersialisasi pendidikan di UNM. Menurut mereka, birokrasi kampus lebih fokus mengejar keuntungan ketimbang mendorong kemajuan akademik. “UNM bukan sekadar tempat kuliah. Ini ruang pertarungan gagasan. Jangan biarkan kampus berubah menjadi pasar untuk elit birokrasi,” lanjut Syamri di hadapan massa aksi.
Momentum aksi ini bertepatan dengan ulang tahun ke-64 UNM pada 1 Agustus. Mahasiswa memberikan “kado” berupa mosi tidak percaya. Mereka menilai rektorat gagal menjalankan peran sebagai pelindung intelektual muda.
Dari sepuluh fakultas yang memiliki BEM, delapan di antaranya ikut bergabung dalam aksi. Para perwakilan memberi tenggat tujuh hari kepada rektorat untuk merespons tuntutan. Jika rektorat tetap diam, mahasiswa berencana menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar.
Secara keseluruhan, aksi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa masih menjaga nalar kritis dan idealisme akademik. Mereka mendesak UNM agar kembali berfungsi sebagai ruang intelektual, bukan hanya lembaga birokratis yang elitis.





Komentar