Bogor – Kronologi pesawat latih TNI AU jatuh yang menewaskan Marsma Fajar Adriyanto dijelaskan langsung oleh pihak Angkatan Udara. Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma I Nyoman Suadnyana memaparkan, insiden itu terjadi ketika Marsma Fajar menjalani misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara. Latihan ini menjadi bagian penting dalam pembinaan serta pemeliharaan kemampuan penerbang agar tetap optimal. TNI AU menekankan pentingnya kesiapan personel agar setiap misi berjalan efektif dan aman di berbagai kondisi penerbangan.
Pesawat Latih TNI AU Lepas Landas dari Lanud ATS
Marsma Fajar, penerbang pesawat tempur F-16, mengemudikan Microlight Fixed Wing Quicksilver GT500 dengan register PK-S126 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Dalam penerbangan itu, ia mengambil posisi pilot sementara Roni mendampingi sebagai co-pilot. Mereka melakukan komunikasi intens dengan menara pengawas untuk memastikan jalur aman.
Pesawat lepas landas dari Landasan Udara Atang Sendjaja (Lanud ATS) pukul 09.08 WIB. Sebelas menit setelah mengudara, tepat pukul 09.19 WIB, pesawat hilang kontak. Tim pencarian langsung bergerak cepat dan menemukan pesawat di sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Astana, Bogor. Kerja sama tim darat dan udara mempercepat proses evakuasi korban.
Marsma Fajar Gugur Saat Jalani Misi Latihan
Tim evakuasi segera membawa Marsma Fajar dan Roni menuju Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. M. Hassan Toto. Tenaga medis berusaha maksimal menyelamatkan mereka, tetapi nyawa Marsma Fajar tidak tertolong. “Marsma TNI Fajar meninggal setibanya di rumah sakit,” ujar Suadnyana dalam keterangan resmi, Minggu (3/8/2025).
Sebelum penerbangan berlangsung, teknisi memeriksa pesawat secara menyeluruh dan memastikan kondisinya prima. Pesawat latih tersebut juga memegang Surat Izin Terbang (SIT) nomor SIT/1484/VIII/2025 dari Lanud ATS. “Pesawat laik terbang. Penerbangan ini merupakan sortie kedua pada hari tersebut,” tegasnya.
Tragedi ini menghadirkan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga standar keselamatan. TNI AU menegaskan komitmen untuk memperkuat pengawasan serta meningkatkan prosedur latihan agar kemampuan penerbang tetap terjaga dengan aman. Marsma Fajar dikenang sebagai sosok profesional yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia kedirgantaraan Indonesia.





Komentar