Makassar – Suhu dingin melanda berbagai daerah di Sulawesi Selatan, terutama pada malam hingga pagi hari. Warga di kawasan pesisir hingga dataran tinggi merasakan penurunan suhu yang cukup drastis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar menjelaskan bahwa fenomena ini masih tergolong wajar dan terjadi akibat musim kemarau serta angin timuran.
Sejak awal Juli, suhu udara di wilayah seperti Makassar, Gowa, Maros, Bulukumba, hingga Pangkep berada di kisaran 18 hingga 20 derajat Celcius pada pagi hari. Sementara itu, daerah pegunungan seperti Toraja, Enrekang, Luwu Utara, dan Malino mengalami suhu yang lebih rendah, bahkan mendekati 14 derajat Celcius.
Menurut BMKG, langit cerah di malam hari mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi. Kondisi ini menyebabkan suhu udara turun drastis menjelang subuh. Angin timur-tenggara yang membawa udara dingin dan kering dari Benua Australia juga memperkuat efek pendinginan ini.
BMKG memperkirakan fenomena ini akan terus berlangsung hingga September 2025, bertepatan dengan puncak musim kemarau. Karena itu, BMKG meminta masyarakat Sulawesi Selatan untuk menjaga kondisi tubuh, khususnya pada waktu subuh dan pagi hari.
Dinas Kesehatan Sulsel mengimbau warga agar menghindari paparan langsung udara dingin, terutama bagi balita, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Mereka juga menyarankan untuk mengenakan pakaian hangat, mengonsumsi makanan bergizi, serta minum air hangat secara rutin.
Petani di daerah seperti Bone, Wajo, dan Sidrap juga mulai menyesuaikan waktu tanam untuk menghindari kerusakan tanaman akibat suhu rendah. Banyak petani memilih menunda persemaian hingga suhu kembali stabil.
Suhu dingin melanda Sulawesi Selatan secara merata dari pesisir hingga dataran tinggi. Masyarakat Sulawesi Selatan diharapkan tetap memantau informasi cuaca resmi dari BMKG. Dengan memahami pola cuaca, warga dapat lebih siap menghadapi potensi dampak dari perubahan suhu ekstrem ini.





Komentar