Maros – Proyek pembangunan jalur kereta api dari Stasiun Mandai, Maros, menuju Pelabuhan Makassar New Port (MNP) mencatatkan progres signifikan. Hingga pertengahan Juni 2025, pengadaan lahan untuk trase sepanjang 14 kilometer tersebut telah mencapai 70 persen.
Kepala Balai Pengelola Kereta Api Sulawesi Selatan, Deby Hospital, menyampaikan bahwa sebagian besar lahan telah dibebaskan melalui pendekatan persuasif. Beberapa pemilik lahan bahkan menyerahkan hak atas tanahnya tanpa ganti rugi sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan infrastruktur transportasi di Sulawesi Selatan. Sisa lahan lainnya merupakan aset milik Pemerintah Kota Makassar yang akan dialihkan melalui mekanisme transfer aset.
Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, yang meninjau proyek pada 12 Juni 2025, mendorong percepatan pembangunan jalur ini. Menurutnya, penyelesaian proyek sangat penting untuk mendukung efisiensi distribusi logistik, mengingat Makassar New Port dirancang sebagai pelabuhan hub internasional di kawasan timur Indonesia.
Selain untuk angkutan penumpang, jalur ini diharapkan mampu mengurangi biaya logistik barang, terutama untuk sektor industri di Sulawesi Selatan seperti semen dan pertanian. Integrasi antara moda transportasi darat dan laut diproyeksikan akan meningkatkan daya saing ekonomi regional.
Meskipun proyek sempat tertunda akibat penyesuaian anggaran, pembangunan kembali dikebut dengan total anggaran Rp1,2 triliun yang telah dialokasikan oleh pemerintah pusat. Proyek ini menjadi bagian dari rencana besar pengembangan jalur kereta Trans-Sulawesi yang bertujuan menghubungkan berbagai wilayah strategis di luar Pulau Jawa.
Dengan progres pengadaan lahan yang semakin mendekati rampung, pemerintah optimistis jalur kereta Makassar–Maros hingga MNP bisa segera difungsikan secara penuh demi mendukung sistem logistik nasional yang lebih efisien dan terintegrasi. <spl>





Komentar