Kesehatan – Pengguna media sosial kembali ramai membicarakan tren diet semangka sebagai metode cepat untuk menurunkan berat badan. Dalam diet ini, pelaku hanya mengonsumsi semangka selama beberapa hari berturut-turut tanpa mengonsumsi makanan lain. Beberapa pengguna menyebutnya sebagai cara “detoks alami”, sementara yang lain mengklaim berhasil menurunkan berat badan dalam waktu singkat.
Namun, para ahli gizi mengingatkan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang kuat yang mendukung efektivitas diet ini. Samantha Cassetty, RD, ahli gizi dan penulis Sugar Shock, menekankan bahwa tubuh sudah memiliki sistem detoksifikasi bawaan yang bekerja melalui hati dan ginjal. Oleh karena itu, mengandalkan semangka saja untuk ‘membersihkan’ tubuh dinilai tidak perlu.
Cassetty menambahkan, meski semangka kaya akan vitamin A, C, B6, dan antioksidan seperti likopen, pola makan ekstrem yang hanya bergantung pada satu jenis makanan justru bisa memicu ketidakseimbangan nutrisi. “Tidak ada satu makanan pun yang bisa mencukupi seluruh kebutuhan gizi,” ujarnya. Konsumsi tunggal seperti ini dapat menyebabkan tubuh kekurangan protein, lemak sehat, serat, serta vitamin dan mineral lainnya.
Keri Gans, RD, penulis The Small Change Diet, menyebut diet semangka sebagai solusi jangka pendek yang tidak realistis. Pelaku diet umumnya hanya kehilangan cairan, bukan lemak, sehingga berat badan mereka cenderung kembali naik saat kembali ke pola makan normal.
Orang tetap bisa menjadikan semangka sebagai bagian dari diet sehat jika mereka mengonsumsinya dalam jumlah yang wajar. Kandungan air yang tinggi dan kalorinya yang rendah menjadikannya pilihan baik sebagai camilan, terutama saat cuaca panas. Louisa Mason, MS, RDN, menjelaskan bahwa kandungan L-citrulline dan likopen dalam semangka berperan dalam mendukung kesehatan jantung. <spl>





Komentar