Kesehatan – Gen Z beli obat cacing ramai-ramai setelah Kasus kematian seorang balita di Sukabumi akibat kecacingan mencuat. Fenomena ini membuat banyak anak muda ikut membeli obat cacing sebagai langkah pencegahan. Tren tersebut terlihat di media sosial, terutama TikTok, dengan unggahan pengalaman minum obat cacing setelah bertahun-tahun tidak mengonsumsinya.
Seorang pengguna TikTok menuliskan, “Jangan lupa minum obat cacing 6 bulan sekali. Terakhir minum pas SD, sekarang umur 26 baru minum lagi.” Unggahan semacam ini kemudian memicu tren baru yaitu Gen Z beli obat cacing. Banyak anak muda mulai membeli obat cacing sebagai langkah pencegahan.
Kasus Kematian Balita dan Peringatan Dokter
Kasus yang menimbulkan keresahan menimpa seorang balita bernama Raya. Anak tersebut meninggal dunia setelah cacing gelang (Ascaris lumbricoides) memenuhi tubuhnya. Kondisinya sudah kritis ketika ia masuk rumah sakit, bahkan cacing terlihat keluar dari hidungnya. Selain kecacingan parah, ia juga menderita komplikasi tuberkulosis.
Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Riyadi, menjelaskan bahwa obat cacing seperti albendazol dapat digunakan pada semua usia. Namun, ia menegaskan agar masyarakat mengonsumsi obat secara bijak. Konsumsi obat cacing sebaiknya berdasarkan indikasi medis atau rekomendasi dokter, bukan hanya mengikuti tren. Penggunaan yang sembarangan dikhawatirkan memicu resistensi obat, mirip dengan masalah antibiotik.
Infeksi cacing menimbulkan berbagai gejala seperti gatal di sekitar anus, gangguan pencernaan, hingga penurunan berat badan. Kasus di Sukabumi memberi peringatan serius meski kematian akibat kecacingan jarang terjadi. Masyarakat perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah penularan.
Dokter menekankan pentingnya pencegahan. Cuci tangan dengan sabun, konsumsi makanan yang bersih, serta minum obat cacing sesuai anjuran dokter menjadi cara terbaik untuk melindungi diri.





Komentar