China – Wabah chikungunya di China mendorong pemerintah kembali mengaktifkan langkah ketat ala protokol COVID-19 untuk menghentikan penyebaran penyakit di Provinsi Guangdong.
Sejak Juli 2025, otoritas kesehatan mencatat lebih dari 10.000 kasus chikungunya, mayoritas di kota Foshan. Angka harian sempat menembus 600 kasus. Total ini melampaui semua kasus chikungunya yang pernah muncul di China dalam sepuluh tahun terakhir. Virus yang menular melalui gigitan nyamuk Aedes memicu demam, nyeri sendi, dan ruam, meskipun jarang menyebabkan kematian.
Pemerintah mengambil langkah cepat. Petugas menyemprot insektisida, mengawasi genangan air, dan mengisolasi pasien dengan kelambu nyamuk sampai tes menunjukkan hasil negatif. Klinik dan apotek melaporkan penjualan obat demam, mengikuti pola pelacakan yang pernah diterapkan saat pandemi COVID-19. Petugas juga menindak warga yang lalai membersihkan lingkungan dengan denda hingga 10.000 yuan atau memutus aliran listrik.
Selain itu, pemerintah melepaskan ribuan ikan pemakan larva nyamuk dan mengerahkan drone untuk mendeteksi genangan tersembunyi. Kampanye kesehatan mendorong masyarakat memasang kelambu, membuka ventilasi rumah, dan memakai pengusir nyamuk.
Langkah-langkah tersebut memberikan hasil nyata. Pada akhir Agustus, kota Foshan melaporkan kasus harian di bawah 50 selama sembilan hari berturut-turut. Otoritas kemudian mencabut status darurat kesehatan masyarakat. Meski kasus menurun, WHO tetap memperingatkan potensi penyebaran global karena perubahan iklim dan mobilitas internasional.
CDC Amerika Serikat juga mengeluarkan peringatan perjalanan (Travel Alert Level 2). Lembaga itu meminta wisatawan menggunakan pelindung nyamuk serta mengikuti rekomendasi vaksinasi sebelum berangkat ke daerah terdampak. Para ahli menegaskan bahwa wabah chikungunya di China bisa menjadi peringatan serius bagi negara lain agar meningkatkan kesiapsiagaan.





Komentar