Bulukumba — Masyarakat lokal Bulukumba, yang menyebut porang dengan nama tire, kini menjadikan tanaman ini sebagai primadona baru di kalangan petani. Mereka dulunya menganggap hanya sebagai tanaman liar tanpa nilai ekonomi, tetapi sekarang justru memburunya karena prospek pasarnya yang menjanjikan. Perubahan besar ini tak lepas dari kehadiran tiga pabrik pengolahan yang telah berdiri di wilayah Bulukumba.
Kehadiran industri pengolahan porang memberikan efek domino terhadap sektor pertanian lokal, terutama pada peningkatan harga jual di tingkat petani. Data dari lapangan menunjukkan bahwa harga yang sebelumnya berkisar antara Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram kini naik signifikan menjadi Rp10.000 hingga Rp13.000 per kilogram. Lonjakan harga ini terjadi setelah dua pabrik tambahan mulai beroperasi dalam kurun waktu setahun terakhir.
Rahman, seorang petani asal Kecamatan Kindang, merasakan langsung dampak positif dari perkembangan tersebut. Ia mengaku sempat kehilangan harapan ketika harga sempat anjlok ke angka Rp3.000 per kilogram. Namun kini, semangatnya kembali tumbuh seiring naiknya harga dan meningkatnya permintaan pasar.
“Alhamdulillah, sekarang harga porang sudah membaik. Tahun lalu saya sempat putus asa karena hasil panen tidak sebanding dengan biaya. Tapi sejak ada pabrik di Bulukumba, harga perlahan naik dan akhirnya menguntungkan lagi,” ujar Rahman, Kamis (17/7)
Ia menambahkan bahwa banyak warga di desanya kini mulai beralih menanam porang. Petani menilai porang mudah dirawat dan menyebut masa panennya relatif singkat, yakni sekitar 7 hingga 8 bulan.
“Kalau dulu cuma segelintir orang yang mau tanam porang, sekarang hampir setiap pekarangan ada tanamannya. Apalagi dengan jaminan harga dari pabrik, petani lebih yakin untuk serius mengelola lahan porang,” jelasnya.
Harapan besar disematkan Rahman dan petani lain terhadap keberlangsungan industri porang di Bulukumba. Mereka ingin pabrik-pabrik yang ada tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang, agar kesejahteraan petani terus meningkat seiring dengan tumbuhnya industri lokal.





Komentar