Internsional — Hari Ayah Sedunia kembali diperingati pada Minggu, 15 Juni 2025, sebagai momen penghargaan terhadap peran penting ayah dalam keluarga dan masyarakat. Dirayakan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, India, dan Inggris, peringatan ini menjadi ajang refleksi sekaligus ekspresi kasih sayang, dari sekadar memberi hadiah hingga menyuarakan nilai kesetaraan peran orang tua di era modern.
Awal mula Hari Ayah Sedunia dipelopori oleh Sonora Smart Dodd untuk menghargai ayahnya yang membesarkan enam anak sendirian setelah kematian istrinya. Perayaan pertama diadakan di Spokane pada 19 Juni 1910 di gereja lokal dan diwarnai simbolis seperti pemberian mawar sebagai tanda cinta dan penghormatan. Meski tidak langsung mendapat sambutan luas, gerakan ini berkembang hingga mendapatkan pengakuan nasional dari Presiden AS pada 1966 dan status hari libur resmi pada 1972. Di Amerika Serikat, Hari Ayah bukan hari libur federal, tapi tetap diakui secara luas dan dirayakan dalam suasana kekeluargaan. Kini perayaannya meliputi berbagai negara, termasuk India, Kanada, Inggris, Australia, dan banyak lainnya .
Pada 2025, momen Hari Ayah dirayakan dengan memberi hadiah, kartu ucapan, dan waktu berkualitas bersama diri ayah. Di India, AS, dan Inggris, keluarga memilih makan malam bersama, berbagi pesan di media sosial, atau memberi hadiah seperti gadget dan kartu personal . Konten digital seperti kutipan, GIF, dan status WhatsApp jadi favorit untuk menyampaikan apresiasi di era modern. Retail menjajal momentum ini dengan menawarkan promo khusus seperti smartphone, speaker, dan berbagai produk yang cocok dijadikan hadiah . Namun, berbagai pakar menekankan bahwa esensi peringatan tetap pada ungkapan terima kasih dan apresiasi sederhana, bukan sekadar komersialisasi.
Di Indonesia, Hari Ayah Nasional dirayakan setiap 12 November sejak dideklarasikan pada tahun 2006. Sementara Hari Ayah Sedunia mengikuti kalender global pada Minggu ketiga Juni, berbeda waktu dan konteks peringatannya. Perbedaan ini mempermudah masyarakat untuk memilih kapan memberi perhatian khusus, baik lewat kampanye keluarga maupun event publik. Di Indonesia, momentum ini biasanya ditandai dengan kegiatan komunitas, lomba keluarga, atau kampanye media sosial terkait peran ayah. Pemerintah, lembaga sosial, dan brand juga jarang merayakan Hari Ayah Sedunia secara resmi, lebih fokus ke Hari Ayah Nasional tiap November.
Memperingati Hari Ayah menjadi momen refleksi terhadap peran ayah sebagai pelindung, pengasuh, dan penopang keluarga. Di era kekinian, peran ayah berkembang menjadi lebih emosional dan setara dalam mengasuh anak—menandai perubahan pola peran gender di keluarga modern . Harapan selanjutnya, peringatan ini tidak hanya sebatas seremoni, tetapi juga mendorong kesadaran tentang kesiapan ayah terlibat aktif dalam pendidikan dan kesejahteraan anak. Edukasi publik melalui sekolah atau media diharapkan bisa menguatkan makna peringatan ini dalam konteks kearifan lokal dan global. Dengan sikap ini, Hari Ayah akan makin bermakna dan lestari, berdampak nyata bagi kualitas fungsi keluarga.





Komentar